Aurat
merupakan suatu anggota badan yang tidak boleh ditampakkan oleh yang bukan
mahrom (orang yang haram untuk dinikahi).
Syarat sah dalam sholat adalah menutup aurat, baik laki-laki maupun
perempuan. Ketika hendak melaksanakan sholat, pastilah memperhatikan bagian tubuh
mana yang harus ditutupi.
Menurut Syekh Muhammad bin Qasim dalam Kitab Fathul Qarib halaman 12
وعورة الذكر ما بين سرته وركبته، …؛ وعورة الحُرَّة في الصلاة
ما سوى وجهها وكفيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين؛
“Aurat lelaki (yang wajib ditutupi) ialah anggota tubuh antara pusar
hingga lutut,.. dan aurat perempuan dalam shalat ialah seluruh anggota tubuh
kecuali wajah dan kedua telapak tangannya baik luar maupun dalam hingga batas
pergelangan.”
Syarat sah tertutupnya aurat
perempuan dalam melakukan sholat adalah tertutupnya seluruh tubuhnya kecuali
wajah dan telapak tangan. Ketika aurat terlihat dari sisi bawah dan sisi atas
maka dikatakan sholatnya tidak sah. Hal tersebut dijelaskan oleh Syekh Abu
Bakar Syatha al-Dimyathi dalam kitab I’anah al-Thalibin dalam Juz 1 hal 113
قوله لا من الأسفل - أي فلو رؤيت من ذيله كأن كان بعلو
والرائي بسفل لم يضر أو رؤيت حال سجوده فكذلك لا يضر
“(Pernyataan ‘bukan dari bawah’) maksudnya apabila terlihat dari bawah
seperti ketika shalat di tempat tinggi dan terlihat dari bawah, maka tidak
masalah sebagaimana jika terlihat saat sujud.”
Sebagaimana dalam Surat An-Nur ayat 31 tentang perintah menutup aurat
وَقُل
لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا
يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ
عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ
ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ
أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ
بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ
غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ
يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ
لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا
أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١ [سورة النّور,٣١]
31. Katakanlah kepada wanita
yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka,
atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki
mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam,
atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung
[An Nur31]
Referensi :
https://islam.nu.or.id/post/read/82855/batasan-dan-ketentuan-aurat-dalam-shalat
https://almanhaj.or.id/4114-kewajiban-menutup-aurat-dan-batasannya.html




